Filsafat
FILSAFAT
FILSAFAT
Pengertian filsafat. Filsafat
mempunyai arti “berpikir”. Kenapa manusia harus atau bias berfilsafat? Karena
dalam kodratnya manusia di ciptakan dengan kelebihan memiliki akal dan berbeda
dengan makhluk ciptaan yang lainnya. Manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang
paling sempurna dan derajat paling tinggi bahkan lebih tinggi daripada setan,
iblis bahkan malaikat. Dalam penciptaannya, manusia diberkahi 3 unsur misterius
yaitu akal, hati dan nafsu/ hasrat. Hasrat atau nafsu dibedakan menjadi dua
yaitu hasrat negative dan hasrat positive.
“Sungguh, Kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS At-Tin : 4)
Akal adalah suatu aspek rohaniah dalam tubuh kita yang bisa
membuat kita berpikir dan beranalisis untuk membedakan hal yang baik dan buruk
dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Akal jugalah yang membedakan manusia
dari hewan dan makhluk ciptaan lainnya. Manusia dan hewan sama-sama memiliki
perasaan, namun hewan tidak memiliki akal untuk berpikir lebih lanjut dalam
mengambil sebuah keputusan, namun hanya mengandalkan insting. Akal tidak hanya digunakan untuk makan, minum tidur dan beraktivitas
lainnya. Akal merupakan kemampuan untuk berpikir yang dapat mengantarkan
kesadaran seseorang terhadap suatu hal. Seseorang yang mementingkan dirinya
sendiri disebut egois. Sifat egois ini merupakan salah satu pengunaan akal.
Dengan akal manusia dapat berfikir secara lebih luas dan logis.
Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa dalam beragama, kita sebagai manusia
harus mempergunakan akal kita. Namun yang harus diperhatikan adalah, akal tidak
kita jadikan segala-galanya sehingga kita pada akhirnya melanggar atau
mengingkari perintah serta wahyu Allah swt. Jika kita melanggar wahyu Ilahiyah,
maka sudah tidak berarti lagi beragamanya kita, Alquran, serta teladan dari
Nabi Muhammad saw. Hal tersebut karena kita lebih mengutamakan akal dan
mengesampingkan wahyu Ilahiyah. Oleh karena itu, tetap ada batasan-batasan yang
tegas antara mana yang harus menggunakan akal, dan mana yang harus diterima
sebagai suatu ketentuan Allah swt, yang disampaikan melalui Rasulullah (Alquran
ataupun As-Sunnah).
Begitulah kedudukan akal bagi seorang manusia. Manusia yang
berakal adalah dia yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Manusia yang beruntung sejatinya adalah manusia yang dengan akalnya dia justru
bisa lebih mengenal dirinya dan lingkungannya sehingga bisa lebih dekat kepada
Allah swt sebagai pencitpa segala sesuatu.
Hati berasal dari( قلب ) qolbu yang artinya hati. Dalam bahasa arab banyak kata
yang maknanya hati tapi memiliki fungsi yang berbeda dalam peletakannya, Seperti
Qalbu ( قلب), Fuad (فؤد), Syaghaf (شغاف), ‘Aql (عقل), Lubb (لب/اللب), Hubb (حب), Sirr (السر), Ruh (روح). Filosof Eropa
yang bernama Bonaventura mengembangkan kepekaan hati adalah bagian dari
keutamaan moral yang dianggap luhur. Ini diketahui oleh berbagai filusuf dalam
sejarah. Bonaventora membagi hati nurani manusia menjadi dua bagian. Bagian
pertama adalah bagian dari hati nurani yang secara alamiah bisa sampai pada
kebenaran-kebenaran dasar dalam hidup manusia, seperti kebenaran yang
terkandung pada perintah-perintah moral dasar ; hormati orang tuamu dan jangan
menyakiti makhluk hidup lain.
Bagian
kedua dari hati nurani adalah kemampuannya untuk menerapkan perintah-perintah
moral di dalam konteks kehidupan sehari-hari manusia. Ini juga merupakan bagian
yang alamiah dari hati nurani manusia, walaupun bisa mengalami kesalahan,
karena berbagai hal, seperti kurangnya informasi, atau kesalahan penarikan
kesimpulan dalam berpikir. Kesempurnaan manusia terletak pada kemampuannya
merealisasikan apa yang dipahaminya dalam bentuk aktivitas nyata sehingga dia
dapat terbang dengan sayap hati dan akal. Selamanya dia tidak bisa terbang
dengan sayap akal saja. Artinya akal adalah satu sayap yang hati pun tidak
dapat terbang dengan satu saja. Dan ada sayap yang lain yaitu amal perbuatan.
Orang
yang termasuk para penempuh sair dan suluk juga tergolong ahli pikir dan
dzikir. Orang yang beriman berdasarkan taklid buta semata yang berdiri di atas
ke kebodohan tidak sampai ke tujuan, meski dalam beberapa hal, dia tergolong
orang-orang berilmu. Demikian pula orang yang menghabiskan umurnya untuk
mencari ilmu, yang untuknya dia berkelana, akan sampai ke “negri-negri dekat”
saja, dan tidak mungkin sampai ke “negri-negri jauh”. Yang dapat sampai
kepada tujuannya adalah dia yang menggunakan ilmu dan amalnya secara
berbarengan. Ilmu ketuahanan dan filsafat bukanlah tujuan, tetapi sarana yang
dapat menjadikan manusia memiliki pandangan dunia tauhid secara benar.
Untuk mengerti konsep akal dan hati dibutuhkan
perenungan yang dalam, karena hal ini berkaitan dengan filsafat yang merupakan
suatu bidang pengetahuan yang ingin mengetahui segala sesuatu secara mendalam
sehingga tercapai kebenaran yang sebenar-benarnya.pengertian filsafat ini
banyak berbeda-beda karena hati dan fikiranpun setiap manusia berbeda-beda,setiap
orang berhak mendefinisikan kata filsafat itu sendiri karena hati dan
fikiranpun yang mengetahui adalah diri sendiri,karena definisi filsafat itu
datang dari hati dan fikiran diri sendiri mengenai kebenaran. karena konsep
kebenaran menurut manusia berbeda-beda maka manusiapun mempunyai sifat yang
berbeda-beda. itulah mengapa didunia ada ini ada manusia jahat dan baik. untuk
mencapai kebenaran yang hakiki maka dibutuhkanlah agama yang melurusi segala
akal dan hati,karena manusia tidak akan pernah sanggup menggunakan fikirannya
untuk membuat suatu kebenaran diatas kebenaran tuhan. segala
kehendak,kemauan,keingintahuan berasal dari hati yang dapat kita fikirkan lagi
dengan akal/otak tentang baik/buruknya kehendak/kemauan yang ada dalam hati,dikarenakan
manusia diberikan akal oleh Tuhan YME oleh karena itu manusia dapat menentukan
baik/buruk yang merupakan suatu kesempurnaan makhluk ciptaan Tuhan,kadang
manusia menggunakan akalnya tidak didasari oleh hati yang baik sehingga
menggunakan akalnya untuk hal-hal buruk atau tidak sesuai dengan moral dan
etika yang diajarkan oleh agama,oleh karena itu kemampuan berfikir itu haruslah
dibatasi oleh qalbu/keimanan agar kita selalu berfikir untuk hal-hal yang
baik,sehingga terciptalah keharmonisan antara hati dan fikiran yang dilandasi
oleh keimanan.
“Berfikirlah kamu diatas hatimu(perasaanmu),
Batasilah pemikiranmu dengan keimananmu(agamamu)”
Dalam Al-Quran sudah tercantum pula hubungan antara
akal dan hati
Akal dan Hati merupakan dua alat berfikir. Yang satu
berfikir melalui logika rasio dan yang satu lagi berfikir melalui logika rasa,
yang satu memilah salah dan benar sementara yang satu lagi memilah baik dan
buruk, begitu kata Al-Ghazali. Dua-duanya merupakan alat dan sumber epistem
pengetahuan, begitu kata Murtadha Muthahari. Yang tentu saja di samping alat
Indra kita sebagai alat untuk menangkap realitas yang seterusnya ditafsir ulang
oleh akal dan hati.
Kedua piranti dalam diri kita ini sangat dianjurkan
untuk berjalan satu kata untuk tujuan keselarasan diri. Namun demikian,
persoalannya adalah, kadang keduanya tidak seimbang. Penyebabnya banyak, bisa
karena kurangnya pembekalan akal, atau juga kurangnya pembekalan hati. Apabila
suatu saat terjadi kerusakan karena kelalaian salah satu dari keduanya maka
akan terjadi ketidakseimbangan diri. Kekuatan utama kendali biasanya akal dan
hati. Keduanya berupaya untuk menempatkan posisi dominan dalam diri kita.
Kaitannya antara akal dengan nafsu
,pada awalnya manusia memang hanyalah sebuah kumpulan nafsu-nafsu. Manusia
adalah sosok yang terus berhasrat. Oleh karena itu, nafsu manusia tidak akan
pernah habis dan manusia tidak akan pernah merasa puas karena nafsu yang tidak
terbatas itu harus dipenuhi oleh dunia yang terbatas. Jika ada yang menganggap
bahwa hidup adalah sebuah penderitaan, maka hal itu bisa dilihat dalam hal ini.
Penderitaan itu dilihat dari kacamata ketidakmampuan manusia untuk memenuhi
semua nafsu yang ada dalam dirinya.
Nafsu-nafsu itu kemudian juga
bersaing satu sama lain dalam diri manusia dan pada akhirnya inilah yang
menjadikan manusia itu seperti apa, sosok yang menjadi bahan penilaian banyak
orang. Manusia tidak pernah memiliki sebuah nafsu yang tunggal. Nafsu pada
manusia senantiasa majemuk. Oleh karena itu, menjadi jelas mengapa manusia
memiliki banyak sifat, seperti pemarah, murah hati, rendah hati, dan lain
sebagainya. Sebenarnya, hal ini merupakan bentuk yang muncul dari perealisasian
nafsu yang ada dalam diri manusia tersebut.
Saat nafsu tidak terpenuhi,
misalnya, maka kita akan menjadi marah, namun sebaliknya disaat nafsu kita
terpenuhi, ada kesenangan menyelimuti dan terpnacar juga ke orang-orang
disekitar kita. Ketika ada hasrat untuk berbagi, maka manusia itu disebut murah
hati. Sifat-sifat yang muncul inilah yang menjadikan diri kita seperti apa.
Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada manusia yang memiliki sifat yang tetap.
Ia senantiasa berubah dan dinamis, tergantung bagaimana dan nafsu apa yang
sedang ada dan berhasil dipenuhinya.
Hasrat/
nafsu bisa berdampak baik tergantung pada pengendalian manusia terhadap hasrat
itu sendiri dan sebaliknya hasrat bisa berdampak negatif juga apabila manusia
lah yang dikendalikan oleh hasrat itu sendiri.
Jangan lupa kunjungi juga
List blog filsafat kelas 7A
28/9 8:50 AM] +62 895-4160-87849: 1. Nuroh difallah
https://nurohdifallah15120497.blogspot.com
2. FadilaNurfi A 15120322
https://falidafurni.blogspot.com/2018/09/wanita.html
3. Ismaul Amalia 15120007
https://ismaulamalia16.blogspot.com/2018/09/filsafat.html?m=1
4. Ahmad Haris Hidayat 15120334
http://filsafatpendidikan15120334.blogspot.com/2018/09/filsafat.html?m=1
5. http://dhimasoekaajiw15120013.blogspot.com/2018/09/filsafat-hidup.html
[28/9 10:20 AM] +62 895-2623-7770: 6.Bagas Panur Permana 15120382. http://bagaspanur95.blogspot.com/2018/09/pengertian-filsafat-pendidikan.html
7. Dewi Krisdiyanti
https://15120285dewifilsafat.blogspot.com/
8. Eko Nur Fatoni/15120020 Fatoniekonur.blogspot.com
9. Atik Budiarti 15120010. http://atikbudiarti31.blogspot.com/2018/09/filsafat-pendidikan.html?m=1
10. Khafidzoh Asfihani 15120008
https://asfihani96.wordpress.com/2018/09/27/filsafat/
11. Nailul Fauzziyah 15120405 http://nailulfauzziyah7.blogspot.com/2018/09/filsafat-pendidikan.html
12. Ibnu masud 15120218 https://ibnumasud97.blogspot.com/2018/09/assalamualaikum-perkenalkan-saya-ibnu.html
13. Riskha Khoirul Ulya 15120219 https://riskaaakhoirululya.wordpress.com/2018/09/28/filsafat-vs-fikir-akal/#more-449
14. Mahmudi
https://mahmdudi018.blogspot.com/?m=1
15. Nur Tri Atika (15120040)
https://nurtriatika.blogspot.com
16.feby dwi angrainy 15120029 https://febydwiangrainy.blogspot.com
17. Martiya zulfa risty 15120039
http://martiyazulfaristy.blogspot.com/2018/09/filsafat.html?m=1
18. Intan Nur Fatikha Mulya 15120033 https://filsafatpendidikanintan.blogspot.com/
19. Sukma Rudi Nugroho 15120212 https://filsafatpendidikansukmarudi.blogspot.com/
20. Neneng Zuliasih 15120016
http://filsafatakal.blogspot.com/2018/09/filsafat-akal.html
21. Susilo bayu m. http://susilobayumustofa.blogspot.com/2018/09/filsafat-pendidikan_28.html?m=1
22. Meiyani Lutfil Khoiriyah 15120450
meiyanilutfilk.blogspot.com/2018/09/filsafat-pendidikan.html?m=1
23. Lina muntasiroh
Leemount.blogspot.com
24. Dyah Saraswati 15120364 http://dyah15.blogspot.com/?m=1
25.hadiah hana putri 15120481 http://15120481hana.blogspot.com/?m=1
26. Anisa Rona Soraya 15120447 http://anisaronasoraya3.blogspot.com/?m=1
27. Bayu Saputro 15120023
http://bayusaputro1st.blogspot.com/2018/09/filsafat-pendidikan.html?m=1
28. Abdul Ghofar
ghofar99.blogspot.com 29. Devi Endah Prastiwi 15120441 http://deviendahprastiwi.blogspot.com/2018/09/filsafat-pendidikan.html
Komentar
Posting Komentar