Filsafat Pendidikan
Nama : Ahmad Haris Hidayat
Kelas : 7A
NPM : 15120334
Ilmu, Realitas, Rasa dan toleransi
Kelas : 7A
NPM : 15120334
Ilmu, Realitas, Rasa dan toleransi
Pada tanggal 27 November 2018 mata kuliah filsafat pendidikan di kelas B. Bapak Moh.Aniq KHB menjelaskan tentang ilmu, realitas, rasa dan toleransi.
Konsep dari
toleransi adalah bagaimana cara kita bisa memiliki suatu pemahaman tapi
pemahaman kita tidak di paksakan ke orang lain. Kita sebagai manusia pasti
memiliki prinsip hidup yang akan kita gunakan untuk bermasyarakat. Prinsip/
principle adalah suatu
kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok
sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak. Contoh: jika orang lain tidak memperingati maulid nabi
kamu tidak perlu memaksa mereka untuk ikut memperingati. Begitupun sebaliknya.
Kita harus saling toleransi. Itulah agama islam yang sebenarnya sikap
saling toleransi yang akan membuat bangsa ini bersatu menjadi Negara kesatuan.
rasa adalah sesuatu yang tidak terlihat tapi diyakini keberadaanya. karena rasa semua bisa berubah. contoh saat ada tamu sebagai tuan rumah harus segera memberikan sebuah suguhan secepatnya jangan sampai tamu tersebut menunggu lama, walau suguhannya hanya air putih. itu adalah bentuk rasa kita menghargai seorang tamu.Berbicara tentang
realitas , fakta di lapangan bahwa terkadang semua yang lahir dari realitas
seolah kita mutlakkan. Misalnya kita belajar teori- teori contoh teori belajar
dan seolah kita memutlakkan itu semua yang sudah kita pelajari tersebut. Padahal
itu hanya sebagian kecil yang sifatnya fragmentatif/ parcial semacam
fakultatif. Kenapa kita memutlakkan fakultatif namun mengabaikan yang universal.
Oleh karenanya jangan kita memutlakkan fakultatif karena berada di bawah
universal.Ilmu itu yang
tanpa batas itu ilmu Tuhan yang melahirkan realitas/ melahirkan peristiwa/
kejadian atau yang disebut ejawantah/manifestasi
tanpa batas. Sehingga realitas menghasilkan ilmu sehingga kemudian ilmu
menghasilkan realitas lagi/ hasil pemikiran. Dari semua ilmu ada ilmu yang
lebih besar daripada ilmu- ilmu yang lain yang kita tidak mungkin menjangkaunya
yaitu ilmu Tuhan. Yang di bawahnya ada realitas Tuhan. Dan tidak semua realitas
tersebut kita bisa pahami. Kemudian dari relitas tersebut terpecah menjadi
ilmu-ilmu manusia. Dan dari ilmu-ilmu manusia tersebut lahirlah realitas
realitas. Contoh seperti dalam agama kita percaya adanya Tuhan tapi kita
meyakininya ada walaupun realitasnya kita tidak tahu dimana keberadaannya. Yang
terpenting kita percaya ada yang membuat jagat raya ini yaitu Tuhan. Contoh lain
kita sulit untuk bisa mendefinisika gelap, gelap di luar mata telanjang dan
gelap disaat mata tertutup. Bedanya gula dan manis, mendefinisikan perbedaan
garam dan asin. garam itu asin tapi tak selamnya yang asin itu garam. Dan contoh lainnya kita melihat seseorang yang
badannya penuh dengan tato, kita pasti berpikiran buruk terhadapnya. Tapi realitasnya
beliau baik sering hadir di majelis ilmu. Memang dulunya premandan pembunuh
bayaran. Tapi sekarang dia berhijrah menjadi seorang mukmin yang taat dan
kalem. Tak selamanya perpspsi kita sama dengan realitasnya.
Pendidikan zaman sekarang sangat berbeda dengan pendidikan zaman dulu. Contoh perlakuan orang tua terhadap anak. Orang tua sekarang menyekolahkan anaknya tidak memasrahkan ke sekolah tapi lebih menitipkan anaknya sekolah. Sehingga muncullah fenomena- fenomena yang dimana penghukuman guru dianggap penganiayaan. Padahal itu sebenarnya adalah cara guru untuk mendisiplinkan siswanya dan sekaligus mendewasakannya. Itu semua juga disebabkan karena HAM untuk anak. Berbeda ceritanya kalau memasrahkan, mereka akan pasrah kepada guru untuk anak dididik dan mau diapakan di sekolah. Tapi disini guru tidak boleh menyalahkan keprasahan orang tua tersebut. Sehingga terjadilah hubungan timbale balik yang baik antara orang tua dan pihak sekolah.
Pendidikan zaman sekarang sangat berbeda dengan pendidikan zaman dulu. Contoh perlakuan orang tua terhadap anak. Orang tua sekarang menyekolahkan anaknya tidak memasrahkan ke sekolah tapi lebih menitipkan anaknya sekolah. Sehingga muncullah fenomena- fenomena yang dimana penghukuman guru dianggap penganiayaan. Padahal itu sebenarnya adalah cara guru untuk mendisiplinkan siswanya dan sekaligus mendewasakannya. Itu semua juga disebabkan karena HAM untuk anak. Berbeda ceritanya kalau memasrahkan, mereka akan pasrah kepada guru untuk anak dididik dan mau diapakan di sekolah. Tapi disini guru tidak boleh menyalahkan keprasahan orang tua tersebut. Sehingga terjadilah hubungan timbale balik yang baik antara orang tua dan pihak sekolah.
Komentar
Posting Komentar